Adsense

Rabu, 15 Oktober 2008

Kuburan Cina Cikadut


Tanggal 23 Maret 2008 hari Minggu saya pergi ke Pekuburan Cina Cikadut. Sambil menenteng kamera sendirian. Tujuan saya adalah menelusuri kembali tempat main dahulu sewaktu saya masih sekolah di Sekolah Dasar (SD). Ini berarti menggali kenangan lebih dari 30 tahun yang lalu.


Saya menempuh SD dari tahun 1972 hingga 1977 di SD Negeri IV Cikadut di Kampung Jamaras tidak jauh dari Pekuburan Cina Cikadut. Sering apabila istirahat atau sepulang sekolah bermain di area pekuburan. Apa yang dilakukan? Bermain kucing-kucingan, ucing sumput, dar-daran, berenang di sumur atau perang kayu rapet. Yang paling menyenangkan bagi saya adalah perang kayu rapet (rapet adalah bahasa Sunda dalam bahasa Indonesia artinya lengket).


Kayu rapet dan buahnya


Pintu gerbang pekuburan ini berupa bangunan tinggi dan memanjang yang disebut los. Dulu apabila ada pemakaman mobil jenasah masuk ke dalam los dan berhenti di sana hingga urusan di kantor pemakaman yang ada di depan los selesai. Sehari-hari di samping los sebelah timur ada juga pedagang. Di antaranya pedagang es cendol dan kupat tahu. Kupat tahu Mang Iyat enak sekali dengan uang Rp 25,- sudah bisa menikmati sepiring kupat tahunya. Kebetulan anak Mang Iyat adalah teman sekelas saya di sekolah dasar.


Los dan pohon beringin yang sudah sangat tua


Suasana pekuburan ini tidaklah menyeramkan, meskipun usia saya waktu itu masih anak-anak. Kuburan-kuburan letaknya tidak teratur. Ada yang terbuka ada pula yang dinaungi oleh atap yang disebut bong. Bong bentuknya bermacam-macam. Ada yang berbentuk payung, payung bersusun, jamur merang, prisma, atau beratap tumbuhan merambat. Kebanyakan atap-atap kuburan berwarna merah atau kuning.



Macam-macam bong


Letak pekuburan ini berada di atas beberapa bukit dan lembah yang meliputi kelurahan dan desa di perbatasan antara Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Dari Alun-alun Bandung ke arah timur sejauh 7 km menelusuri Jl. A. Yani terus ke Jl A.H. Nasution lalu belok ke kiri Jalan Cikadut. Berada di ketinggian lebih dari 700m dpl kita bisa melihat kota Bandung yang membentang dari timur ke barat. Sebelah timur laut ada Gunung Palasari dan Manglayang. Nun jauh di sana sebelah selatan terletak Gunung Malabar, dan ke barat laut ada Gunung Burangrang dan Tangkuban Parahu.



Gunung Burangrang dan Gunung Tangkubanparahu



Kuburan-kuburan menghadap searah dengan aliran air. Jadi kuburan yang berada di atas suatu bukit bisa saja menghadap ke berbagai arah, sesuai kemiringan tanah. Pada waktu saya masih anak-anak Bong Koneng (bong warna kuning) sangat terkenal. Bentuk atapnya seperti payung kembar bersusun dua. Di sana dimakamkan Yo Giok Sie, pendiri sebuah pabrik tekstil besar tidak jauh dari Cikadut. Kuburannya selalu dijaga siang dan malam. Yo Giok Sie meninggal pada tahun 1970-an awal.



Memandang Kota Bandung dan Gunung Malabar


Masih sekira tahun 1970-an juga era keindahan Bong Koneng berakhir setelah raja tekstil Bandung lainnya dimakamkan di sebelah utara Bong Koneng. Dari cerita waktu saya kecil di sana dimakamkan pendiri pabrik tekstil Okatex yang terletak di Cicadas-Bandung. Ketika masih baru atapnya berwarna merah dan pilar penyangganya dibelit ornamen naga. Jika angin bertiup lonceng kecil yang berada di sungut naga akan berbunyi gemerincing. Waktu saya terahir ke sana warna merah atapnya kusam dan tidak ada lagi bunyi gemerincing jika anginnya bertiup. Pada masa jayanya, di halaman depan pabrik Okatex yang luas dapat dilihat beberapa ekor menjangan yang dilepas. Suatu pemandangan yang indah waktu itu.



Bong Koneng dan Bong Okatex


Di barat daya pekuburan yang terletak di kampung Jamaras dulu ada sebidang tanah miring yang ditumbuhi rumput. Tanah ini sering dipakai bermain sepak bola, bentuknya tidak persegi panjang, karena ada pekarangan rumah dan kuburan yang menjorok ke lapangan. Lapang miring ini ditandai dengan kuburan yang disebut Bong Beureum (bong berwarna merah). Selain dipakai tempat sepak bola dipakai pula untuk “ngangon munding” (menggembala kerbau). Lapang Miring tidak jauh dari SD tempat saya belajar, sehingga saya pun sering main sepak bola di sana. Alhasil saya pernah merasakan menginjak “ranjau” di lapang itu berupa kotoran kerbau dan manusia yang sudah dingin tapi masih empuk. Tahun 70-an orang masih sering buang hajat di pinggir lapangan dekat Bong Beureum, karena masih banyak keluarga yang belum mempunyai jamban. Kini lapang miring sudah berganti menjadi pemukiman.


Di areal pekuburan banyak ditanam pohon kayu rapet-penduduk di sana waktu itu menyebutnya demikian, ini berbeda dengan kayu rapet dalam literatur obat tradisional-. Getah pohon ini dapat digunakan sebagai perekat. Dari getah pohon ini kami suka membuat tato. Caranya petik sehelai daun lalu pangkal daun yang masih mengeluarkan getah ditorehkan ke lengan. Kemudian taburkan debu tanah pada torehan tadi, maka debu akan tertinggal pada goresan getah. Bijinya tidak bisa dimakan, kami gunakan untuk senjata perang lempar-lemparan.


Pada waktu istirahat sekolah seluruh teman laki-laki sekelas dibagi dua kelompok yang seimbang. Masing-masing kelompok punya seorang raja. Peperangan bisa dilakukan di antara dua bong yang berdekatan, namun bila terdesak bisa melarikan diri ke bong lain yang lebih aman. Pada suatu petang ketika waktu istirahat dan saya masih kelas 5 pernah melakukan perang besar melawan gabungan kelas 4 dan kelas 6. Kami berhasil mendesak mereka sampai jauh dari arena peperangan semula hingga perbatasan pekuburan bagian utara. Musuh semuanya menyerah minta ampun, kecuali rajanya ketua murid kelas 6 yang bernama Usep, anak kampung Cicabe. Ia memegang batu-bata duduk di atas pilar pagar kuburan seolah raja yang duduk di atas singgasana tapi sudah terpojok masih pula mencoba menantang, “Sok siah saha nu wani ka aing?” (Ayo siapa yang berani melawanku?)


Diputuskan perang berakhir dan kami harus kembali ke sekolah, karena sudah terlalu lama berperang. Rupanya kami sudah lama melewati waktu istirahat, maklum waktu itu tidak ada murid yang punya jam tangan. Ketika masuk ke kelas ruangan sunyi, kosong. Ternyata kepala sekolah mengumpulkan murid-murid di kelas lain yang lebih besar. Waduh!


Pada waktu istirahat sekolah, bila tidak main bola atau perang-perangan, kami pergi ke sumur yang berada di tengah komplek pekuburan. Sumur ini diberi pembatas tembok dengan ketinggian dari atas tanah 25 cm. Airnya selalu meluap. Karena mulut sumur cukup lebar bisa dipakai berenang sampai 5 orang anak kecil. Tentu saja gaya yang bisa digunakan di sini adalah “gaya timbul tenggelam”. Saya tidak bisa berenang jadi hanya duduk menonton teman-teman sambil menunggui baju mereka. Kadang timbul pikiran iseng”, bagaimana kalau saya sembunyikan pakaian mereka? Dasar saya ini anak baik niat jadi “Jaka Tarub” urung, lagi pula tidak akan mendapatkan bidadari.



Arah kuburan mengikuti kemiringan tanah (kiri). Dulu di sini ada mata air dan dibuat sumur (kanan)


Tahun 1980-an saya kembali ke sana mata air ini sudah kering, sehingga saya bisa melihat kedalaman sumur sekira dua meter. Kini sumur itu sudah tidak ada, dipakai kuburan dan ditumbuhi alang-alang di sekitarnya. Ternyata agak selatan dari bekas sumur itu ada babalongan (kolam). Saya melihat beberapa anak sedang memancing. Mungkin ada mata air baru.



Beberapa anak sedang memancing. Air mengalir dari mata air baru?


Apabila sedang libur panjang, misalnya setelah kenaikan kelas, permainan berganti. Perang buah kayu rapet berhenti karena teman bermain berganti pula dengan tetangga di kampung Jamaras. Liburan diisi dengan main “rorodaan” yaitu naik kereta papan yang menggunakan roda pelor besi (laher). Papan ini bisa dinaiki sendiri atau tandem berdua. Untuk mengendalikan arah digunakan seutas tali yang diikatkan pada as roda depan. Agar kereta dapat meluncur maka permainan harus di jalanan yang menurun. Di jalan beraspal berbahaya, karena terlalu curam dan sewaktu-waktu ada kendaraan bermotor. Jalur favorit adalah jalan tembok putih dari kuburan Toko Medan hingga jalan aspal dekat kuburan Atlantic Park sekarang. Kuburan Toko Medan ditandai dengan bintang di atas pintu gerbangnya. Jalur itu sampai sekarang masih ada.


Bong Toko Medan (kiri) dan jalur kereta luncur (kanan)


Suara laher dari kereta cukup berisik ketika meluncur. Apabila pengawas kuburan mengetahui, kami dilarang main kereta luncur di sana, karena akan merusak jalan tembok. Kami pura-pura pergi mematuhi kemudian bersembunyi di bong. Jika pengawas sudah tidak ada kami main kereta luncur kembali.


Musim adu jangkrik juga mengasyikkan. Di kuburan Cina sangat berlimpah. Yang dicari adalah jangkrik kalung untuk aduan. Jika yang ditemukan jangkrik kasir, ini juga lumayan untuk makanan ayam jago di rumah. Jangkrik bersarang di tanah terutama yang berumput dan tanahnya tidak terlalu padat. Oleh karena itu sering harus mengorek gundukan kuburan untuk memperoleh jangkrik.


Tahun 1980-an akhir saya sering lari pagi di jalan utama beraspal Pekuburan Cina Cikadut ini. Lalu lintas kendaraan bisa dikatakan nihil. Ada dua tanjakan yang curam dan agak panjang cukup menguras tenaga. Pukul 5 pagi tidak terlalu gelap, karena area pekuburan adalah ruang terbuka. Hanya saja seputar krematorium karena ada pohon-pohon besar nan rindang cukup gelap. Kalau lewat di depannya selalu saja ingin menoleh krematorium dan lari tidak bisa dipercepat karena sudah capai. Apalagi di depan mata masih ada tanjakan. Ehmm. Ketika mata menoleh ke selatan kota Bandung masih ditaburi cahaya lampu-lampu. Indah sekali. Setelah mencapai ujung utara pekuburan ada perkampungan dan ada saja warung yang menjual makanan dan minuman ringan. Lumayan ada bala-bala, gehu (toge tahu), comro (oncom di jero) dan leupeut (lontong).



Krematorium didirikan tahun 1967 (kiri). Kota Bandung arah barat daya dari Kuburan Cikadut (kanan)


Pulangnya jalan santai, apalagi jalanan menurun, kalau berlari bisa nyungsep atau “ti totolonjong” (terus berlari dan sulit untuk berhenti) bisa-bisa nabrak pagar kuburan. Suasana pagi sudah terang dan dari atas bukit kita dapat melihat kota Bandung mulai dari ujung timur hinga ujung barat. Bayangkan kota Bandung sebagai sebuah mangkuk ribuan tahun yang lalu adalah sebuah danau yang luas dan dalam. Saya selalu berharap punya indra keenam agar bisa melihat suasana Danau Bandung dan Gunung Sunda tempo dulu. Ada yang dapat membantu saya?


Area Pekuburan Cina ini sangat luas entah berapa hektar. Banyak yang menduga komplek pekuburan ini yang terluas di Indonesia. Dulu pekuburan ini salah satu tempat favorit untuk piknik. Ketika saya masih sekolah di SD beberapa kali piknik bersama guru-guru sambil membawa makanan. Biasanya Bong Koneng menjadi tempat tujuan atau selalu dilewati setiap ada acara piknik ke pekuburan ini.


Dalam perjalanan terakhir ke pekuburan Cina Cikadut saya menemukan batu nisan bertuliskan tahun meninggal 1947. Diperkirakan daerah ini mulai dipakai sebagai pemakaman jauh sebelum Indonesia Merdeka. Almarhum kakek saya mengatakan ketika bekerja di Bandung tahun 1920-an, Kuburan Cina Cikadut sudah ada, namun tentu saja belum seluas sekarang. Dulu pengrajin batu nisan kuburan Cina (bongpay) bisa ditemukan di daerah Cidurian, Cimuncang, dan beberapa di Cikadut hingga awal tahun 1990-an. Para perajin batu nisan ini mungkin gulung tikar, karena kesulitan bahan baku batu dan Pekuburan Cina Cikadut pernah dinyatakan tertutup akibat lahannya sudah penuh. Pihak berwenang merekomendasikan area baru di Nagreg.


Mungkin untuk menghindari hal-hal yang negatif secara resmi pekuburan ini dinamakan Pekuburan Hindu-Budha seperti yang tertera di plang depan kantor administratur pemakaman. Sekarang hal itu sudah tak perlu dikhawatirkan lagi. Selama inipun orang tetap menyebutnya kuburan Cina. Sayang sekali dalam literatur mengenai Bandung, kawasan ini terabaikan untuk dibahas.


Asep Suryana, 01 Mei 2008

23 komentar:

  1. wuah, ulu belum pernah ke cikadut itu. jadi pengen ah. sipsip. nuhun inpona, kang Asep hehehe

    BalasHapus
  2. Nuhun Neng Nurul parantos ngalongok ka blog sim kuring

    BalasHapus
  3. ada cerita mistisnya gak?
    soalnya sering denger. .

    BalasHapus
  4. Rasanya tidak serem, kalau siang enjoy saja. malampun kalau cahaya bulan ada, indah rasanya. Paling ditanya Hansip apa tujuannya malam-malam ada di kuburan. Dulu waktu saya masih SD dengar sih cerita orang yg bertugas membakar mayat tangannya "merengkel" maklum saat itu membakarnya masih pakai kayu bakar.

    BalasHapus
  5. Setahu saya juga tdk seram Kang...soalnya saya pernah lewat bada isya malah banyak yg pacaran sambil menatap Bandung di malam hari...asyik2 aja tuh..
    Nuhun kang tulisannya.

    Ani Rusliani

    BalasHapus
  6. wah bagus blognya kang asep, rupanya pekuburan Cina di Bandung masi lebih teratur daripada di Bogor

    BalasHapus
  7. @handelstraat: Yang di bandung pun semakin tak teratur saking padatnya/ Terima kasih telah berkunjung. Salam kenal

    BalasHapus
  8. Jadi kepengen juga ah jalan 2 ke Cikadut nya, kata orang sih " Taman Hongkong "

    BalasHapus
  9. @kkswargi: terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Tentang ini bisa dibaca juga tulisan teman-teman Komunitas Aleut yg berkunjung ke sana tgl 14-11-2010 di http://aleut.wordpress.com

    BalasHapus
  10. nuhun kang asep informasina
    abi ayeuna jadi apal tempat tempat di KC teh (kuburan cina)
    abi oge osok ameng keneh da di daerah legok anu ceuk kang asep aya balong.. :)
    ayeuna mah kang lapang nu miring teh tos janten rumah warga...lapang teh jadi sempit kang komo jamaras mah tos pinuh ku rumah warga...

    nuhun kang..

    BalasHapus
  11. Sawangsulna. Sim kuring kapungkur nuju alit oge di Jamaras RT 01 (komplek)

    BalasHapus
  12. keren kang..padahal orang tua saya juga tinggal d ujung berung deket kan k cikadut tp saya baru 1x aja ke cikadut pas kremasi org tua relasi saya..

    BalasHapus
  13. kang asep abdi oge ti tahun 1986 di cikadut...cerita literatur kang asep mengingatkan saya sewaktu sd juga kang..saya dulu di SDN CIKADUT V ..

    BalasHapus
  14. Sareng saha nami te? Kapungkur mah mung dugi ka IV, SD Cikadut teh. Saya lihat banyak kuburan yang sudah jadi permukiman. Saya lagi mencari info tentang perangan melawan Belanda di kuburan Cikadut sewaktu revolusi fisik.

    BalasHapus
  15. saha n bde k cikadut yeh




    BalasHapus
  16. tah eta bro bkit ckadut teh

    BalasHapus
  17. ah manya naha abimah te apal.

    BalasHapus
  18. Terima kasih infonya 'Kang Asep Suryana... bagus dan lengkap buat saya. Saya dulu tinggal di Bandung, daerah Muararajeun. Kalau naik atap genting melihat ke timur.. yang terlihat jelas bong koneng...

    BalasHapus
  19. Terima kasih kembali. Bong Koneng sampai sekarang asih terawat, karena dijaga tiap hari. Secara umum Taman Pemakaman Cikadut tidak terawat. Ada perusakan (pencurian) pagar besi atau keturunannya sudah tidak ada lagi yang memerhatikan makam leluhurnya.

    BalasHapus
  20. aduuh meni waas kang. mengingat masa kecil emang paling indah nya kang. Eta ari kupat tahu mang Iyat masih aya kang? waas artos salawe kenging kupat tahu. mun ngemut ngemut kapengker waktos budak sok hayang ngumpul deui jeung babaturan sapantaran. sok mangga di lajeng kang....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hatur nuhun parantos sumping kana ieu blog. Sareng saha?

      Hapus
  21. Bagus sekali tulisanyaa mas asep,jadi pengen maen ksana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Kang Bahrul telah berkunjung. Kondisinya sekarang tak seindah dulu. Generasi kesekian, keturunan dari yang meninggal mungkin sudah kurang memperhatikan makam leluhurnya. Jadi kebanyakan tampak kusam tidak terawat. Kalau sekarang keluarga yang meninggal mungkin akan memilih San Diego Hill atau Al Azhar Memorial Park di Karawang.

      Hapus