Adsense

Sabtu, 04 Juni 2011

Jalan-Jalan ke Pecinan Bandung

Tanggal 4 April 2010 saya pergi mengunjungi daerah Pecinan Bandung bersama Komunitas Aleut. Mungkin tidak banyak yang menyadari kalau nama Jl. Alkateri diambil dari nama keluarga Arab Al Katiri seperti diutarakan nara sumber Ridwan Hutagalung yang dikenal dengan inisial BR. Di jalan ini pula terdapat Gg. Al Jabri yang pada abad ke-19 adalah tempat penjualan madat, sekarang menjadi tempat berjualan barang-barang antik.

Tidak jauh dari Alkateri terdapat Jl. Pecinan Lama dan Kampung Suniaraja yang menjadi tempat permukiman pertama etnis Cina di kota Bandung. Perjalanan selanjutnya adalah ke Pasar Baru. Pada abad ke-19 perekonomian jauh lebih sederhana dari jaman sekarang. Pasar dalam arti fisik tempat bertemunya pedagang dan pembeli merupakan bagian penting denyut suatu kota. Di belakang Pasar Baru saya melihat beberapa toko dan rumah dengan gaya arsitektur yang unik yang dahulunya dimiliki para saudagar dari bermacam etnik. Pasar Baru merupakan pasar pengganti dari pasar di daerah Ciguriang (sebelah barat daya dari Alun-alun Bandung) yang dibakar tahun 1842 akibat kerusuhan yang dikobarkan Munada seorang Cina mualaf asal Kudus. Konon orang Cina yang menjadi muslim hak dan kewajibannya disamakan dengan penduduk pribumi sehingga terhindar dari passenstelsel.

Rumah dan toko milik saudagar tempo dulu di belakang Pasar Baru


Dari sini sudah tergambar sejak berpindahnya ibukota Kabupaten Bandung ke Alun-alun Bandung tahun 1810 dalam beberapa dekade Bandung tumbuh menjadi kota yang multi etnik dan dengan demikian multi kultural. Hanya saja sekat-sekat sosial yang dibuat pemerintah kolonial sering menimbulkan friksi di antara mereka. Keadaan penduduk Bandung akhir abad ke-19 terlukiskan di dalam tulisan Kalipah Rd. H. Muhammad Sueb kepada Hoofd Panghulu H. Hasan Mustafa, Surat Ka Kotaraja (1907): “Beuki loba bangsa bae Arab, Jawa, Melayu, sumawonten Cina mah ….”.

Perjalanan selanjutnya ke arah barat dari Pasar Baru, menelusuri Jl. Belakang Pasar. Pada siang itu jalanan begitu lengang. Padahal di sekitarnya Jl. Oto Iskandar Dinata, Jalan Kebon Jati, Jl. Jendral Sudirman adalah jalan yang ramai dan padat. Di kanan dan kiri banyak toko atau warung yang tutup. Apakah mereka sedang “siesta”? Arsitektur bangunan Cina yang sudah lapuk di makan usia menunjukan situasi pasar yang sudah berubah. Pasar Baru yang moderen pun di jamannya kini sudah bukan pasar moderen dengan kriteria anak gaul sekarang.

Bangunan toko dengan arsitektur khas toko Cina jaman dulu di Jl. Belakang Pasar.


Perjalanan dilanjutkan ke Pasar Barabadan. Seumur hidup saya baru melihat pasar ini. Khas sekali barang-barang yang dijual yaitu barang-barang kelontong tradisional. Kata BR ketika melihat-lihat di Barabadan kadang kita harus menebak apa fungsi suatu barang yang kelihatan unik. Selanjutnya untuk menuju ke tujuan akhir Vihara Satyabudhi di Jl. Kelenteng kami menerobos melalui Jl. Saritem. Pertama kali ini pula saya melewati Saritem yang pada jaman kolonial hingga tahun 2007 merupakan lokalisasi pelacuran. Tentu dulu kalau lewat Jl. Gardujati akan jauh-jauh dari Saritem takut ada yang mengenali lalu digosipkan, wah celaka bisa menjadi pitnah eh fitnah.

Pasar Barabadan

Pasar Barabadan

Menurut BR permukiman Pecinan di Bandung agak berbeda dengan kota-kota besar seperti di Batavia atau Semarang. Di Bandung lebih longgar dalam hal batasan permukiman, sehingga interaksi antara etnis Cina dan pribumi pada jaman kolonial lebih intensif. Saya sebagai orang Bandung yang sejak lahir tinggal di kota ini, ternyata banyak sudut-sudut kota yang belum pernah saya kunjungi. Dengan berjalan menelusuri kota bersama komunitas yang mempunyai perhatian yang sama sangat mengasyikan, bisa berbagi pengalaman dan menambah teman. Ini salah satu interaksi antar penduduk kota yang positif. Tentu saja kalau mau disebut pesertanya dari berbagai etnis berbeda, berbagai umur, pendidikan, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Semua berjalan bersama karena mempunyai perhatian yang sama kepada kota Bandung.

Dengan modal dasar yang serba multi ini diharapkan penduduknya menjadikan Bandung menjadi kota yang bermartabat, kota yang ramah, aman, rukun, damai, bersih, dan sehat. Pokoknya kota yang layak huni. Bandung adalah kuali di pegunungan, tempat bercampurnya segala rasa.
Dupa dan patung Panglima Koan Kong di depan Vihara Satyabudhi dahulu bernama Kelenteng Hiap Thian Kiong didirikan tahun 1885 terletak di Jl. Kelenteng (Chinesen Kerkweg)

Diambil dari Notes di akun facebook saya: asep.suryana1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar