Adsense

Rabu, 22 Oktober 2008

Candi Bojong Menje

Tanggal 8 Juni 2008 saya ingin melihat kembali situs Candi Bojong Menje setelah terakhir melihatnya pada bulan Desember 2004 hampir empat tahun lalu. Setibanya di situs betul-betul saya kecewa. Tidak terlihat adanya kemajuan sejak empat tahun lalu. Tentu itu hanya perasaan saya saja sebagai pemerhati sejarah dan pusaka (heritage). Barangkali para ahli yang punya kapasistas dan tanggung jawab menangani situs ini sedang bekerja keras hanya kurang publikasi.


Candi ini terletak di Kampung Bojong Menje, Desa Cangkuang, Kec. Rancaekek lebih kurang 25 km dari pusat kota Bandung ke arah timur pada jalur jalan provinsi Bandung-Garut. Reruntuhan candi terletak 200 m sebelah selatan dari jalan raya tersebut, yang dihubungkan oleh gang yang sempit. Candi ini ditemukan oleh Ahmad dan penduduk setempat pada tanggal 19 Agustus 2002. Jika menilik nama tempat “bojong” artinya tanah yang menjorok, mungkin dahulunya tanah yang menjorok ke tengah situ atau danau, sedangkan “ranca” artinya rawa. Anda bisa membayangkan dahulunya seperti apa daerah sekitar candi.


Jumlah batuan yang terlihat lebih sedikit dari yang pernah saya lihat di tahun 2004. Mungkin sebagian diamankan terutama yang berbentuk patung. Saat itu tak ada seorangpun yang menunggui situs. Saya tidak melihat juru pelihara candi Pak Rochman dan pintu pagar terkunci dengan gembok yang kokoh. Semoga beliau sehat dan panjang umur. Saya lupa menanyakan keberadaan beliau kepada penduduk yang tinggal di ujung gang.


Ukuran kaki candi sekitar 6x6 meter persegi. Candi Bojong Menje merupakan candi Hindu dengan ditemukannya yoni yang merupakan lambang Dewa Siwa. Jika Candi ini ada kaitannya dengan Kerajaan Kendan yang sekarang termasuk daerah Nagreg, maka diperkirakan berasal dari abad ke-6 atau 7 Masehi. Kendan merupakan daerah bawahan Kerajaan Tarumanagara. Daerah Nagreg lebih kurang 13 km jauhnya dari Rancaekek ke arah Garut.


Di sebelah utara jalan kereta api dekat Stasiun Nagreg ditemukan situs purbakala yang oleh penduduk setempat disebut “pamujaan”. Di sini pernah ditemukan patung Durga (nama seorang dewi). Patung ini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Di Kendan pernah pula ditemukan perkakas batuan neolitik jaman jauh sebelum tarikh Masehi. Jadi daerah ini sudah lama dihuni manusia.


Dari situs kita tidak bisa melihat pemandangan karena terhalang benteng pabrik. Jangan berkecil hati kita terbang saja ke atas dengan membuka Google Earth untuk melihat situs dan sekitarnya dari penglihatan satelit. Kemudian ubah elevasi seolah kita melihat dari arah selatan candi. Tepat arah utara candi adalah puncak bukit yang disebut Gunung Geulis. Letaknya beberapa kilometer dari situs. Biasanya situs purbakala di Pulau Jawa seperti candi atau istana tidak asal dibangun. Umumnya membentuk poros pada arah utara-selatan, atau timur-barat. Berada di antara dua sungai, di antara gunung dan danau, atau diantara dua bangunan alam yang berdekatan. Jadi kalau sebelah utara adalah puncak Gunung Geulis, maka sebelah selatan ada apa? Berdasarkan toponimi, saya membayangkan candi ini ada di atas tanah yang menjorok ke selatan ke tengah situ (danau) sisa danau purba Bandung. Kalau ya sungguh indah panorama alam saat itu. Sejak pertama kali saya ke puncak Gunung Geulis tahun 1979 terlihat gundul karena bukit ini penuh dengan ladang tembakau. Sedikit sekali tanaman kerasnya.


Jika membandingkan dengan Candi Cangkuang yang berada di Desa Cangkuang, Leles, Kabupaten Garut, maka kedua candi tersebut nama desanya sama Cangkuang. Pada poros mata angin arah utara Candi Cangkuang terdapat puncak bukit/gunung. Candi Cangkuang kini berada di atas pulo (pulau kecil) di tengah Situ Cangkuang. Mirip dengan kondisi Candi Bojong Menje yang saya bayangkan di atas. Cangkuang (Pandanus Furcatus) adalah sejenis tanaman yang dapat ditemui di sekitar Candi Cangkuang). Kedua candi berukuran kecil.


Raja Manikmaya adalah raja pertama Kendan (536-568 M) yang berasal dari India menantu Raja Tarumanagara saat itu. Cucu Manikmaya bernama Kandiawan menggantikan ayahnya (597-612 M), beliau tidak berkedudukan di Kendan melainkan di Medang Jati. Sebelumnya beliau sudah menjadi raja bawahan Kendan di sana. Mungkin Candi Cangkuang dibangun pada masa ini. Kerajaan Kendan pudar setelah Wretikandayun putra Kandiawan mendirikan pusat kerajaan jauh di arah tenggara bernama Galuh.


Candi Bojong Menje belum bisa ditampilkan secara komersial. Keadaannya terhimpit oleh benteng-benteng pabrik yang mengitarinya. Di sekitarnya masih tersisa makam-makam. Kondisi bebatuan candi yang jumlahnya tidak utuh akan menyulitkan untuk merekonstruksinya. Namun jika Anda punya ketertarikan terhadap peninggalan purbakala, tentu tergerak ingin melihatnya.


Untuk mengunjungi situs ini sangat mudah baik menggunakan kendaraan umum maupun pribadi. Dari arah barat sejak gerbang tol Cileunyi lebih kurang 5 km. Sedangkan dari arah timur baik yang dari Tasikmalaya maupun Garut yang menuju Bandung akan melewati daerah Rancaekek ini.***




Papan penunjuk ke arah candi di Jalan Raya Rancaekek (Juni 2008)









Tempat candi dilingkupi benteng pabrik (Juni 2008)










Batuan candi disusun (Desember 2004)










Batuan kaki candi (Desember 2004)







Salah satu batu candi (Desember 2004)











Pak Rochman juru kunci candi (Desember 2004)











Poros Candi-Gunung Geulis (Google-Earth)









11 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Duh belum pernah ke candi ini, padahal lokasi dari nagreg ngga jauh,. Lokasi candi sepertinya terpojok oleh pabrik pabrik ya kang.

    Dulu tidak jauh dari situs kendan kabarnya akan dijadikan tempat pembuangan sampah dan pekuburan cina pindahan dari cikadut, benarkah itu kang ??, semoga saja tidak.

    Pernah ke puncak gunung geulis ya kang, boleh tahu di puncaknya ada apa, mungkin ada tugu, makam atau sejenisnya.

    Haturnuhun,
    ARi (Asep Rivai)

    BalasHapus
  3. Iya ARi di puncak G. Geulis ada makam. Tidak tahu kosong atau berisi. Dulu memang Pekuburan Cina mau dibuat yang baru di Nagreg, tetapi Cikadut tetap melebar. Mudah-mudahan Kendan tidak seburuk nasib Situs Rancamaya

    BalasHapus
  4. tanggal 28 maret 2009 saya mengunjungi lokasi candi bojong menje. jalan menuju lokasi candi memang sangat sempit sekali tapi ketika saya sampai dan melihat keadaan candi rada lumayan terawat dan dipagari. mudah mudahan ini dapat dipertahankan

    BalasHapus
  5. Mudah-mudahan tidak ada yang mencuri. Soalnya sangat sedikit sekali batuan penyusun candi yang tersisa.

    BalasHapus
  6. thazz benington21 Oktober 2009 04.27

    dwuhh..lom pernah nih kesini padahal rumah saya d rancaekek..tpi lom sempet juga,,pdahal pengen bgd liat candi nyah .,..
    kta nyah c keungan daerah gagh punya dana lgi buat nerusin..bener gagh ya???

    BalasHapus
  7. Sdr. Thazz Benington, ada beberapa alasan mengapa batu-batu Candi Bojong Menje tidak segera berwujud. Pertama batu-batu penyusun sangat sedikit kurang dari 35% (Candi Cangkuang di Garut pun hanya 35% sisa batuan dan bentuk yang sekarang adalah rekaan). Jadi dari pada mereka-reka mungkin lebih baik seperti apa adanya. Tetapi batu-batu yang berbentuk patung sudah diselamatkan. Area candi mungkin lebih luas dari yang ada sekarang atau masih ada beberapa candi di sekitarnya, namun terbentur areal pabrik, kecuali ditemukan lagi bukti baru.

    BalasHapus
  8. sepertinya pada saat pembangunan pabrik2 di sekitar candi,pihak pengembang atau pabrik sudah mengetahui keberadaan candi bojong menje ini. tapi kalau mereka melaporkan keberadaan situs ini, tentunya pembangunan pabrik akan dihentikan.Dan mungkin ada beberapa batu candi yang tergali pada saat pembangunan, tetapi ditutupi untuk alasan yang telah dikemukakan tadi....

    BalasHapus
  9. Kemungkinannya seperti itu. Kini kita berharap besar pada kompleks Candi Batujaya di Karawang, karena berada di area persawahan jadi tidak sulit untuk menggalinya, selain beberapa candi yg sudah digali dan direkonstruksi, ditemukan pula kubyuran masal beserta benda-benda seperti tombak, gerabah, dll.

    BalasHapus
  10. aduuhh...
    kmha nasib ayeuna ieu candi.
    tiap musim hujan teh situs ieu osok kabanjiran,kumargi bumi abdi cakeut pisan ieu situs
    kmha lagkah kmudian pemerintah teh.
    mening teu acan aya perubahan deui.

    BalasHapus
  11. Coba nanti kita tanya pengelolanya Balai Pengelola Kepurbakalaan Disbudpar Jabar, bagaimana situs Bojong Menje ke depan.

    BalasHapus