Tanggal 4 Oktober 2008 saya melakukan jalan kaki (hiking) menuju Gunung Palasari dan Kampung Palintang bersama adik saya Viky. Kami ingin melihat Situs Makam Dipati Ukur. Informasi mengenai situs ini juga pernah saya peroleh dari penjaga situs Candi Bojong Menje Pak Rochman tahun 2004. Sebelumnya kami beberapa kali ke Palintang sejak 2002 dengan jalur berbeda. Bagi saya Palintang – Bukit Tunggul adalah jalur hiking yang indah.
Kali ini saya menggunakan jalur Pasir Jati-Gunung Palasari yang belum kami coba. Dari Jalan A.H. Nasution Km 9,5 yaitu melalui Jalan Cijambe kami naik ojeg ke ujung Perumahan Pasir Jati, pada ruas ini tidak nyaman untuk berjalan kaki karena hilir mudik kendaraan terutama sepeda motor. Dari Pasir Jati jalan meliuk-liuk dan menanjak sudah terasa aroma pedesaan, tidak hiruk pikuk dan pemandangan indah sekali. Salah satu kegiatan ketika berjalan kaki ialah mengamati, mempelajari lingkungan sosial daerah yang dilalui.
Sebelum mencapai Bukit Paratag kami sampai di suatu bukit yang terdapat “kolecer” atau kincir angin. Ketika kami tiba di
Kemudian sampailah saya di Bukit Paratag, di sini terdapat sebuah padepokan. Beristirahat untuk beberapa jenak, kemudian saya melanjutkan perjalanan melalui jalan di sebelah kiri padepokan. Kami terus menuju Gunung Palasari di samping parit yang mengalirkan air yang jernih dari mata air di atas
Setelah beristirahat kami mencoba menerobos hutan di atas jalan kontrolir. Lambat laun jalan setapak hilang dan kini bukan pohon pinus lagi. Akhirnya kami mundur lagi ke jalan kontrolir karena tidak membawa peralatan apapun. Ah dasar bukan pendaki gunung. Kami berjalan memutari G. Palasari ke arah timur hingga tiba di jalan beraspal. Jalan ini bermula dari Alun-alun Ujung Berung melalui Cinangka atau dari Jalan Nagrog. Kami belok ke kiri menuju arah utara ke Kampung Palintang. Di perbatasan kampung jalan berganti menjadi jalan koral. Kami pun beristirahat di warung depan SD Negeri Palintang. Jikalau jalan kaki seperti ini biasanya kami hanya berbekal air mineral, dan sarapan dahulu tentunya. Kalau lapar nanti di warung-warung yang dilewati bisa makan bala-bala (bakwan), gorengan atau makanan tradisional. Dengan demikian beban tidak berat sehingga berjalan kaki dapat menempuh jarak yang lebih jauh. Saya pun bertanya kepada pemilik warung keberadaan situs makam Dipati Ukur. “Eta Cep caket di tonggoh teu tebih ti dieu ke mengkol ka kenca taroskeun we ka urang dinya. Malih kuncenna oge caket di dinya”. (Sudah dekat berjalan naik lagi kemudian ada jalan yang belok ke kiri. Nanti tanyakan lagi ke penduduk yang ada di
Kami melanjutkan perjalanan menuju situs. Cuma saya terus merenung. Makam Prabu Siliwangi? Soalnya begitu banyak situs yang oleh penduduk di beberapa tempat disebut makam Prabu Siliwangi atau petilasan. Jalan ke makam bersih di bawah pohon hutan yang rimbun. Pertama kali menjumpai susunan batuan yang hampir berbentuk lingkaran, mungkin susunan batuan sudah bergeser dari formasi aslinya. Mungkinkah ini yang oleh penduduk dinamakan makam Dipati Ukur?
Kemudian kami berjalan ke arah selatan beberapa meter dari
Saya teringat buku “Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda: Tafsir-tafsir pantun Sunda” (Jacob Sumardjo, 2003) mengenai Kuburan Kosong di Pasundan. Ajat Rohaedi seorang arkeolog banyak mengunjungi situs-situs sejarah dan ada makam tua di situs tersebut apabila digali ternyata kosong. Seringkali suatu kampung mempunyai mitos asal-usul kampung tersebut, maka untuk membuktikan mitos atau cerita itu pernah terjadi atau tokoh dalam mitos pernah hadir di kampungnya, maka dibuatlah semacam bukti. Bukti dapat berupa kuburan kuno, pohon besar yang rindang, batu besar, patung dll.
Hal di atas berhubungan dengan sisa kepercayaan primordial bahwa hidup di dunia merupakan kesatuan dengan alam semesta dan alam rohani (tripartit, tritangtu). Yang mana kehidupan rohani ini sangat menentukan kehidupan di dunia yang material. Seringkali susunan tempat sbb: Desa-komplek makam-hutan/bukit/gunung. Di mana ketiganya dihubungkan oleh sungai atau jalan. Dunia bawah-dunia tengah-dunia atas. Kedua dimensi yang berlawanan diharmonikan di dunia tengah oleh alam roh nenek moyang atau tokoh/pahlawan. Jadi dunia manusia (kampung) dihubungkan dengan alam roh yang berada di hutan/bukit/gunung oleh alam roh nenek moyang.
Jika usia kuburan belum tua bisa jadi tidak kosong, bahkan nyata. Misalnya makam pendiri kampung. Seringkali makam tersebut diziarahi oleh keturunan dan warga kampung tersebut.
Demah Luhur yang ada di kampung Palintang ini saya tidak berani mengatakan kosong atau tidak, karena harus berpijak pada bukti arkeologis dan sejarah. Saya kira itu belum dilakukan pada situs ini. Kita bisa menelusurinya atau bertanya keapada keturunannya mungkin mereka menyimpan catatan/cerita secara turun-temurun. Menurut Ua Bandung banyak versi mengenai Dipati Ukur. Di antaranya ketika tidak berhasil mengusir VOC dari
Tetapi ada versi lain yaitu ketika rombongan ketiga umbul melewati Talaga dicegat oleh pasukan Adipati Talaga. Karena ketiga umbul mengakui keunggulan Adipati Talaga, maka dibuat perdaya bahwa yang diserahkan kepada Sultan Agung adalah seseorang yang belapati dan mengaku Dipati Ukur. Hingga akhir hayatnya Dipati Ukur tinggal di Talaga dan dimakamkan di
Menurut pengamatan saya secara sekilas Dipati Ukur adalah tokoh yang “dipikatineung” (sangat dikenang) oleh masyarakat Priangan setelah Prabu Siliwangi. Pada abad 20 paling tidak ada dua orang yaitu Oto Iskandar Dinata dan Ir. H. Djuanda yang menjadi “kareueus” (kebanggaan). Keberaniannya dan keandalannya luar biasa.
UNTUK MELIHAT FOTO-FOTO KLIK GAMBAR DI BAWAH INI
![]() |
Demah Luhur - Palintang |
Masih di daerah ujung berung mas?
BalasHapusBetul. Dari Alun-alun Ujungberung ke utara lewat Cigending. AStau dari Cibodas Lembang juga bisa ke timur menuju Kampung Palintang
BalasHapus